Jadi….
Tadi siang, tiba-tiba, entah kenapa, Saya ingin membuat donat.
Iyaaaa… donat… Kue gendut yang tengahnya bolong kayak roda…
Pasalnya, Aida sangat suka donat.. Bisa loh dia makan donat tiap hari… Ckckckck… Jadi aja saya tertantang bikin donat kan.
Ingin dong si bocah ngerasain donat bikinan ibunya, bukan beli terus. Padahal sebelumnya saya sama sekali tidak pernah bikin donat, atau masak yang lain. Dapur, adalah tempat yang sudah jadi kesepakatan kami, sebagai prioritas terakhir dalam rumah.
Masak, haruslah sesuatu yang ‘ingin dilakukan’ bukan karena kewajiban.
Sampai suatu ketika seorang kawan pernah berkata, “Satu saat, kamu akan ingin memasakkan sesuatu… “.
Waktu itu saya hanya ketawa. Si kawan melanjutkan, “Bisa aja kamu ngga mau masak buat suami, tapi kalo anakmu ingin KAMU memasakkan sesuatu, kamu ngga akan bisa nolak… Pasti kamu masak juga untuk anakmu”.
Dan si teman itu bicara SEBELUM sebelum saya punya anak..
Ternyata “waktu” untuk ingin memasakkan sesuatu untuk anak datang hari ini. Dan saya tidak bisa mengelak, keinginan itu begitu kuat. Jadilah siang ini saya belanja bahan-bahan keperluannya. Tepung, gula, susu bubuk, dan akhirnya, untuk pertama kali dalam sejarah hidup, saya tahu perbedaan baking soda dan ragi instan, serta mencarinya di supermarket.
Di rumah, saya langsung berkutat dengan catatan resep, dan ukuran. Kurang lebih 2 jam kemudian, jadilah donat a la mamanya Aida.
Kata mas suami donatnya enak. Tapi, Aida malah lebih memilih menjilati gula halusnya ketimbang makan donatnya, yang katanya enak.
Nasib. Sepertinya sih, memang lebih benar beli satu biji donat aja waktu si bocah ingin…. #kapok
Comments