Bego

 Saya tau, ngga seharusnya ketawa, atas nama moral baik.


Tapi sudah sekian lama saya menciptakan aturan sendiri untuk keluarga sendiri. 


Misalnya tidak mengatakan hal-hal yang “tidak sopan menurut aturan umum” di depan anak supaya ia tidak meniru. Tapi siapa pun pasti sulit sekali untuk tidak memaki kalau memang keadaan “mengharuskan” memaki. 


Yah, saya kan bukan “santa”, bukan orang suci. Walaupun, kadang saya masih yakin bahwa bahkan orang suci pun akan memaki, sekali-kali.


Akhirnya, kami, memutuskan bahwa “cepat atau lambat, Aida akan mendengar kata-kata yang tidak sopan, kalau bukan dari orang terdekatnya, ya dari lingkungan. 


Anak-anak kan ngga imun dari pengaruh lingkungan. Yang kami lakukan adalah mengajarkannya untuk menggunakan kata-kata itu jika terpaksa dan pada tempat yang tepat”.


Kami bahkan memberitahukan artinya. Juga minta maaf jika kelepasan, yang seringkali terjadi (akhirnya minta maaf). Yah, tidak ada sesuatu hal yang tidak melalui proses kan… Semua berproses… Tidak ada yang instan. Asalkan kita tidak bosan, terus menerus , memberitahu Aida, memberi contoh.


Hari ini, saya hanya bisa tertawa.. karena penempatan kata yang tepat, walaupun salah alamat.


Setting: 


tempat parkir Pondok Indah Mall 1. Aida berjalan gagah, ngga mau digandeng, akhirnya saya lepas tangannya setelah berhasil menyebrang jalan, menuju jalan yang berkanopi di tempat parkir. 


Dia berjalan dengan gagah, tapi agaknya matanya tidak melihat ke depan atau sekelilingnya, sehingga tau-tau terdengar suara “DUK”, lumayan keras. 


Ternyata kepalanya terantuk kaca spoin mobil. Saya sudah bersiap dia bakal nangis. Lumayan keras loh.. pasti sakit… 


Tapi saya diam, sampai melihat reaksinya…


Ternyata dia jalan terus, masuk ke jalan kecil berkanopi itu. Kemudian sambil mengusap kepalanya, dia berkata dengan dingin:


“Mobilnya bego bener parkirnya, Aida sampai kejeduk.”


Huahahahahahahahahahahaha….


Comments