Akar

 


Hari Minggu siang menjelang sore, kami ke Taman Ismail Marzuki. Rendez-vous dengan seorang kawan lama Affan, yang sekarang menetap di Swiss. 


Dia ke Indonesia bersama istrinya yang kebetulan warga negara Swiss dan anaknya yang masih balita. 


Dalam pandanganku, perjalanan semacam itu adalah perjalanan “untuk memperkenalkan Indonesia” pada anaknya. Bukan “kembali”, “pulang”, tapi sekedar “memperkenalkan”, yang seperti katanya kemarin, “Mumpung anakku masih mau diajak kemana-mana, bisa saja sebentar lagi dia ngga mau jalan-jalan ke Asia…”.


Lalu, pagi ini, di perjalanan menuju kantor, ketika kami sedang berhenti di depan palang kereta Jalan Bendi Tanah Kusir karena akan ada kereta api jurusan Jakarta – Banten yang akan lewat, Affan tiba-tiba menyeletuk, “Lucu juga kalau kapan-kapan kita naik kereta, ke Banten…”.


Aku, yang memang parno dengan moda transportasi umum di negara ini hanya mendengus, sebagai tanda ketidaksetujuan. Affan melanjutkan, “Kan ada tempat yang asyik di sana… Yah setidaknya wisata budaya lah.. Supaya selalu ingat akar kita…”.


Akar…


Aku sendiri tidak terlalu memperdulikan akarku. Mungkin karena memang aku tidak pernah merasa punya kampung halaman. Terlahir dari ibu yang mempunyai sedikit darah Madura, sedikit darah Surabaya, dan (mungkin) sebagian besar darah Solo Jogja. Serta dari ayah yang mempunyai sebagian darah Padang, sebagian Bengkulu, sebagian Jambi. Saya sendiri lahir di tatar Sunda dan menghabiskan sebagian besar perjalanan hidup di Jakarta, membuatku benar-benar tidak merasa memiliki kampung halaman, tempat akarku mestinya berada.


Ayahku baru “pulang kampung” setelah selama 25 tahun merantau ke tanah Jawa. Ketika itu aku berumur 12 tahun, dan sejak saat itu aku baru 3 kali menginjakkan kaki ke tempat yang dianggap sebagai “kampung” ayahku. Jika tidak karena pergi beramai-ramai, aku tidak akan pernah ke sana.


Beruntung “kampung” ibuku masih di tanah Jawa, jadi aku relatif lebih sering berkunjung ke sana di masa kecilku, terutama di hari Raya. Biasanya saat itu diisi dengan berkunjung ke makam kakek dari pihak ibuku, lalu menjenguk rumah keluarganya (yang sudah dihuni oleh entah keturunan kerabat yang mana).


Tetapi karena nenek dari pihak ibuku lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta, di mana saudara-saudaranya, kakak-kakak dan adik-adiknya berada, maka semakin hilanglah kesan “kampung” ibuku. Akhirnya perjalanan kami ke sana menjadi lebih pada nostalgia pertemuan ayah dan ibuku.


Begitulah… aku tidak pernah merasa “pulang kampung”. Tidak pernah merasa “punya kampung”.


Mungkin, istilah “pulang kampung” itu buatku jadi lebih pantas ketika aku masih kuliah di Bandung. Aku pulang ke Jakarta hampir tiap bulan atau menjelang Hari Raya, ke rumah orangtuaku.. itulah “pulang kampung”ku, itulah “akar”ku. Sedangkan sekarang… karena aku juga tinggal di kota yang sama dengan mereka, tidak ada lagi “pulang kampung” itu.


Agak berbeda dengan Affan yang, menurut kacamataku, memiliki “akar” yang lebih jelas. Mungkin itu juga yang membuatnya tertarik pada sesuatu yang berhubungan dengan sejarah, atau akar itu lah.


Setidaknya sejak menikah selama hampir 7 tahun, kami sudah beberapa kali ke “kampung”nya di Malang. Anakku sudah 3 kali. Berarti nyaris setiap tahun kami ke sana. Menurutnya, ada semacam kerinduan kembali ke sana, tapi setelah memenuhi rasa rindu itu, dia pasti akan kembali ke dunia yang sekarang.


Memang, paling lama kami hanya 4 hari berada di “kampung”nya, itupun dihabiskan dengan jalan-jalan sendiri keliling kota, menikmati penganan masa kecil.


Lahir dari sebuah keluarga yang, menurutku, lebih sedikit “campuran”nya, mungkin membuatnya lebih berpikir mengenai asal usul atau “akar”nya itu, walaupun tidak sampai membuatnya terikat erat. Dia adalah orang yang melihat “masa sekarang” ketimbang berkutat dengan “akar”.


Tapi dia punya “akar”, tempat ke mana dia akan pulang di saat tertentu, dan kemudian memperkenalkannya pada anak kami, seperti yang dilakukan temannya yang menikah dengan orang Swiss itu.


Aku setuju dengan idenya untuk “mengenal akar”.


Tetapi bagiku ide itu bukan untukku. Melainkan untuk anakku, yang dalam darahnya mengalir darah Affan. Alangkah rumitnya jika aku berusaha membawa anakku “mengenal akar”nya, sementara aku sendiri tidak merasa “tertanam” di sana, tidak merasa menjadi satu bagian dari “akar” tertentu. 


Ada hal-hal yang terlanjur membuatku jauh dengan “akar”, yang kalaupun bisa dipaksakan hasilnya tidak maksimal, aku tetap tidak menjadi bagian dari itu semua.


Entahlah, mungkin lucu juga jika sewaktu-waktu aku membawa anakku ke tempat yang dianggap sebagai kampung ayah atau ibuku.


Hanya saja aku pasti tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kekerabatannya pada anakku. Mungkin kalau pun terjadi, perjalanan menuju ke sana akan menjadi suatu tour bagi kami, tidak lebih dari itu. 


Dan aku tetap tidak merasa “tertanam”….


Comments