Putusan




 Di luar gelap.

Kecuali tiang-tiang listrik, putih, berlari melewati.
Aku melihat wajahku di jendela, berkedip setiap kali satu tiang listrik lewat. Tadinya berharap akan lelah, lalu mengantuk.
Tapi aku tidak mau tidur.
Tiang-tiang itu seperti kancing baju. Seperti waktu remaja dulu, menghitung kancing untuk memutuskan apakah akan ikut kabur dari pelajaran kimia. Aku benci kimia.
Sekarang aku berurusan lagi dengan kimia. Tapi bukan karena benci.
Baru 219 kilometer. Masih 300 kilometer. Kurang lebih.
“Segera putuskan, apa yang akan kamu pilih?” suara di kepala kembali mengingatkan. Sudah yang ke lima kalinya. Kali ini lebih keras. Membuat hati berdenyut nyeri.
Bertahan. Bahagia. Tapi sakit, dan limbung. Tapi bahagia.
Atau.
Pergi. Hampa. Tapi berdiri, dengan penyangga yang tampak cukup kokoh. Tampak kokoh, karena hampa.
Bagaimana caranya memilih? Semua seimbang. Seandainya ada perbedaan berat satu saja.. Tapi keduanya seimbang. Keduanya tidak menuntut. Tidak memaksa.
“Ada hal yang lebih baik tidak diucapkan,” dia pernah berkata, menatapku sambil menyesap kopi. Seingatku kemudian kami saling tersenyum. Saling paham.
Tiang-tiang listrik melambat. Lalu berhenti.
Aku baru menyadari leherku pegal. Dia menghilang dari pikiranku. Jadi aku bisa menggerakan kepala, ke kiri dan ke kanan. Melihat sekeliling, dan menemukan beberapa orang dalam gerbong yang sama, dengan berbagai kegiatan mereka. Dua orang tidur. Satu orang sedang makan, mungkin bekal dari rumah, karena saat ini sudah tidak ada pramugara yang menawarkan makanan dan minuman. Beberapa orang sedang mengobrol, sepertinya mereka baru saling kenal. Di depanku tampak kepala-kepala yang berdekatan, mungkin sepasang kekasih atau pengantin baru. Ada yang juga sedang melihat sekeliling, seperti yang kulakukan. Mungkin dia juga sedang menimbang-nimbang pilihan seperti aku.
Tiang-tiang listrik mulai bergerak lagi. Pelan. Agak cepat. Cepat.
Pilihan-pilihan itu muncul lagi.
Aku teringat terakhir kali kami bertemu. Dan perutku mendadak mulas.
Aku teringat tatapannya, teringat apa yang aku pikirkan ketika membalas tatapannya.
“Kadang-kadang, apa yang tidak terucapkan membuat semua berbeda…”
Iya, berbeda. Memberi tambahan berat ke salah satu pilihan. Dan itu yang akan kupilih.
Tapi keduanya masih seimbang. Karena ada yang tidak diucapkan.
Tiang-tiang menghilang. Suara kereta terdengar lebih menderu. Mungkin sedang melewati terowongan. Bayangan wajahku terlihat lebih jelas. Lalu aku melihatnya, menyipitkan matanya, menatapku seperti memohon. Tapi sedetik kemudian tatapannya seperti mengeras, marah. Sedetik berikutnya luruh, tidak berdaya.
Aku seperti mendengarnya berbisik, “Kamu menyakitiku”. Lalu tiang-tiang listrik itu kembali berkejaran.
Hatiku berdenyut nyeri, tapi aku mulai merasa denyutan yang berbeda. Lebih berirama, pelahan berubah menjadi nyanyian rindu. Aku tahu….
“Of course I’ll hurt you. Of course you’ll hurt me. Of course we will hurt each other. But this is the very condition of existence. To become spring, means accepting the risk of winter. To become presence, means accepting the risk of absence.” -Exupéry
ps: Ingin ngetag tapi ga usah katanya.. Ah, kamu taulah siapa kamu :D . You’re strong enough!

Comments